https://www.beachviewbreakfastandgrill.com/

Magasatwa Rawa Singkil Orangutan Sumatera

Magasatwa Rawa Singkil Orangutan Sumatera

Magasatwa Rawa Singkil Orangutan Sumatera – Magasatwa Rawa Singkil Orangutan Sumatera

Suaka magasatwa Rawa Singkil, yang memberntang di kabupaten Aceh Selatan, aceh Singkil, hingga kota subulussalam, merupakan salah satu kantong habitat orangutan sumatera terpenting di Indonesia.

Kawasan Konservasi ini Memiliki luas sekitar 82.188 hektare, dan menjadi rumah bagi populasi orangutan yang sangat padat.

Menurut strategi dan rencana aksi konservasi orangutan Indonesia 2019-2029 wilayah Trumon-Singkil yangmencangkup SM Rawa Singkil menyimpan sekitar 1.270

individu orangutan sumatera. Namun, tekanan dari aktivitas perambahan dan perkebunan sawit terus menggerus habitat vital ini.

Populasi Orangutan di Rawa Singkil

Peneilitian dariUniversal Syaiyah Kuala yang dipublikasikan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kepadatan populasi roanguatan di kawasan ini mencapai 3.4 individu per kilometer persegi, dengan rata-rata 27 sarang pada luasan yang sama.

Beberapa lokasi bahkan mencatat kepadatan hingga 6.3 individu/km2, berkat melimpahnya pohon pakar. Namun, di area yang terdampak perambahan, jumlahnya menurun hingga 1.8 individu/kmm2, akibat berkurangnya tutupan pohon dan terganggunya ekosistem hutan gambut.

Deforestasi Rawa Singkil Terus Meningkat

Data Geographic Informatiaon System Yayasan HAkA mencatat bahwa anatara 2019 hingg 2023, Rawa singkil telah kehilangan1,784 kehtare tutupan hutan. Rinciannya:

  • 2019: 28 Hektare
  • 2020: 43 hektare
  • 2021: 165 hektare
  • 2022: 716 hektare
  • 2023: 832 hektare

Kabupaten Aceh Selatan menjadi wilayan dengan kehilangan hutan terbesar selama periode tersebut.

Perubahan status kawasan juga terjadi beberapa kali:

  • Tahun 1998, Rawa Singkil ditetapkan seluas 102.500 hektare
  • Tahun 2015, luasnya dikurangi menjadi 81.338 hektare
  • Tahun 2021, di tetapkan kembali menjadi 82.188

Ancaman Serius bagi Habitat dan Masyarakat

SRAK juga menegaskan bahwa pembangunan ekonomi berbasis eksploitasi hutan, kebakaran, populasi penduduk, lemahnya penengakan hukum, serta maraknya pemburuan dan perdagangan ilegal merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup orangutan.

Kerusakan Rawa Singkil bukan hanya berdampak pada satwa liar, tetapi juga mengancam masyarakat lokal yang bergantung pada fungsi ekologis hutan gambut seperti penyimpanan air, pencegah banjir, dan pencegah kebakaran.

Aksi Mahasiswa dan Desakan Penegakan Hukum

Pada 7 Maret 2024, aliansi Keadilan Lingkungan, menggelar demonstrasi di kantor BKSDA Aceh. Mereka menurut penagnanan serius terhadap perambahan yang kian masif.

Koordinator Akal, Ardi Mansyah, menyatakan kekhawatiran bahwa tanpa tindakan tegas, Rawa Singkil bisa berubah menjadi “rawa sawit” dalam beberapa tahun ke depan.
Kerusakan ini dinilai akan berdampak langsung pada masyarakat, bukan hanya pada orangutan.

BKSDA Aceh sendiri megnaku telah melakukan upaya mencegahan, mulai dari sosialisasi hngga penegakanhukum, termasuk membawa beberapa pelaku ke meja hijau.

Rawa Singkil Penentu Masa Depan Konservasi Orangutan Sumatera

Sebagai bagian dari kawasan Ekosistem leuser yang menjadi benteng terakhir orangutan sumatera, rawa singkil memiliki peran yang sangat krusial. Jika perambahan terus terjadi, konsekuensinya bukan hanya kepunahan satwa, tetapi juga meningkatnya potensi bencana ekologis bagi masyarakat Aceh.
Melindungi SM Rawa Singkil berarti menjaga keberlanjutan hidup satwa dilindungi, melindungi hutan gambut, dan menjaga keselamatan generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *